Pelalawan | Mediatorpost.com – Seorang ibu muda berinisial NM diduga menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan oleh suaminya berinisial SR di depan sebuah warung pecel lele di Desa Palas, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan, Sabtu (18/7/2026).
Peristiwa tersebut berawal saat sebuah mobil ambulance berhenti di depan warung pecel lele. Dari dalam ambulance turun seorang perempuan bersama sopir yang belakangan diketahui merupakan suaminya.
Menurut keterangan warga, tidak lama setelah berhenti, keduanya terlibat adu mulut. Sopir ambulance diduga sempat menarik paksa korban agar kembali masuk ke dalam kendaraan. Namun korban menolak, sehingga terjadi cekcok di lokasi. Setelah itu, sopir ambulance meninggalkan korban seorang diri di warung tersebut.
Sejumlah warga yang melihat kejadian kemudian berusaha menenangkan korban. Kepada awak media, NM mengaku pertengkaran sebenarnya telah terjadi sejak mereka masih berada di dalam ambulance.
melihat kejadian itu salah satu warga desa palas menolong korban yang ditinggal suaminya tersebut dengan memberikan baju karena celana dan bajunya sudah robek ditarik suaminya.
“kejadiannya kami nggak menyangka bang, saya kira mau makan biasa tetapi tiba-tiba cekcok dan kami tanya kejadian itu sudah dari perjalanan tadi,” ungkap warga yang menolong,
“Kami sudah cekcok dari tadi, Bang, di dalam ambulance. Saya takut karena dia membawa mobilnya ugal-ugalan,” ujar NM sambil menangis.
Korban mengaku meminta suaminya menghentikan kendaraan karena khawatir akan terjadi kecelakaan.
“Saya minta berhenti di sini supaya saya bisa turun. Nyawa saya cuma satu, saya takut terjadi musibah,” katanya.
NM juga menjelaskan bahwa dirinya sebenarnya hendak menjalani kontrol pasca melahirkan melalui operasi caesar di Rumah Sakit Efarina sesuai jadwal. Namun di tengah perjalanan, pertengkaran semakin memanas.
Ia mengaku mengalami kekerasan fisik ketika berada di depan warung pecel lele.
“Saya ditarik paksa masuk ke mobil. Karena saya tidak mau, saya dipukul, ditampar, dada saya diinjak, bahkan bekas operasi saya ditekan sampai saya kesakitan,” ungkapnya.
Akibat kejadian tersebut, NM mengaku mengalami trauma dan merasa tidak terima atas perlakuan yang diduga dilakukan oleh suaminya. Ia menegaskan akan menempuh jalur hukum dengan melaporkan peristiwa tersebut ke pihak kepolisian.
“Saya tidak terima diperlakukan seperti ini. Saya akan melaporkan kejadian ini ke polisi agar diproses sesuai hukum yang berlaku,” tegas NM.
Mendapat informasi tersebut, awak media kemudian menghubungi Bhabinkamtibmas Desa Palas, Briptu Karim, untuk meminta bantuan koordinasi. Selanjutnya Briptu Karim berkomunikasi dengan Bhabinkamtibmas Desa Bagan Limau serta Kepala Desa Bagan Limau, Saparudin.
Setelah dilakukan koordinasi, Pemerintah Desa Bagan Limau bersama pihak kepolisian berupaya menjemput korban agar dapat kembali ke rumah keluarganya dengan aman.
Kepala Desa Bagan Limau membenarkan bahwa NM merupakan warganya.
“Benar, Bang, itu memang warga Desa Bagan Limau. Setelah saya cari tahu memang ada permasalahan keluarga. Namun yang terpenting sekarang bagaimana saudari NM bisa pulang terlebih dahulu dengan selamat. dan untuk saudara SR suaminya masih belum bisa dihubungi,” ujar Saparudin.
Hal senada juga disampaikan Bhabinkamtibmas Desa Bagan Limau yang menyebutkan bahwa pihaknya masih melakukan koordinasi terkait proses penjemputan korban.














